Kilas Indonesia

Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Maroko

Redaksi
2 menit baca
Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Maroko
Photo Saat Menjadi Petugas Upacara Hari Kemerdekaan Indonesia di Kedutaan Maroko

Oleh: Ghozali Iqbal Suprapto

(Mahasiswa Jurusan Dirasat Islamiyah - Cadi Ayyad University Morocco)

Hari raya Idul Fitri atau عيد الفطر merupakan salah satu perayaan terpenting bagi umat Islam di seluruh dunia. Di Morocco, Lebaran tidak hanya menjadi momen religius setelah sebulan penuh berpuasa, tetapi juga menjadi waktu untuk mempererat hubungan keluarga, memperkuat tradisi, dan menikmati kuliner khas yang diwariskan turun-temurun.

Shalat Idul Fitri

Pada pagi hari Lebaran, masyarakat berbondong-bondong menuju masjid atau lapangan terbuka untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Setelah shalat dan khotbah selesai, orang-orang saling bersalaman dan terkadang disertai sentuhan ringan dipundak atau pelukan ringan serta mengucapkan selamat dengan kalimat “عيد مبارك سعيد”, yang bermakna harapan akan hari raya yang penuh berkah dan kebahagiaan. Dan tanggal 1 Syawal telah ditetapkan oleh pemerintah maroko pada hari Jumat, tanggal 20 Maret 2026.

Pakaian Tradisional

Salah satu ciri khas Lebaran di Maroko adalah penggunaan pakaian tradisional. Pria biasanya mengenakan djellaba, yaitu jubah panjang dengan penutup kepala yang menjadi simbol pakaian tradisional Maroko. Sementara itu, perempuan sering mengenakan kaftan, pakaian elegan dengan hiasan bordir yang indah.

Pakaian ini tidak hanya mencerminkan identitas budaya Maroko, tetapi juga menambah suasana meriah pada hari raya.

Hidangan Khas Lebaran

Setelah shalat Id, keluarga biasanya berkumpul untuk menikmati sarapan khas Lebaran. Berbeda dengan beberapa negara lain yang langsung menyajikan makanan berat, di Maroko hidangan pertama pada pagi hari sering berupa makanan manis.

Beberapa makanan khas yang sering disajikan antara lain:

Baghrir: Pancake lembut dengan banyak lubang di satu sisi, biasanya disajikan dengan sirup madu dan mentega.

Chebakia: Kue kering berbahan dasar wijen yang dibentuk seperti bunga, digoreng, lalu dicelupkan ke dalam madu. Sangat populer saat Ramadan.

Hidangan-hidangan ini biasanya dinikmati bersama teh mint khas Maroko yang menjadi minuman tradisional yang hampir selalu hadir dalam setiap pertemuan keluarga.

Lebaran di Maroko merupakan perpaduan antara ibadah, tradisi, dan kebersamaan keluarga.

Melalui shalat Id, serta kegiatan saling mushafahah, masyarakat Maroko merayakan Idul Fitri dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Tradisi kuliner, pakaian khas, serta budaya silaturahmi menjadikan Lebaran di Maroko memiliki warna tersendiri yang memperkaya keragaman budaya Islam di dunia.

Bagikan:

Redaksi

Penulis di Kilas Indonesia. Menghadirkan berita terkini dan terpercaya untuk pembaca setia.

Berita Terkait

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!