SURAKARTA – Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa di Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Surakarta, Kementerian Agama Republik Indonesia telah sukses menyelenggarakan Pelatihan Literasi bagi Kepala dan Pengawas Madrasah Ibtidaiyah. Kegiatan ini dirancang sebagai upaya strategis untuk memperkuat pondasi literasi sebagai kunci utama penguatan mutu pendidikan madrasah. Direktorat GTK Madrasah menghelat kegiatan pelatihan ini di kota Surakarta pada Senin, 15 Desember 2025.
Pelatihan yang berlangsung selama 1 (satu) hari dari pagi hingga sore, diikuti oleh seluruh Pengawas Madrasah dan Kepala MI di wilayah Karesidenan Surakarta sebanyak 55 peserta. Fokus utama materi adalah pemahaman mendalam terhadap konsep literasi dasar dan implementasinya di lingkungan madrasah.
Dalam sambutannya Kasubdit Bina GTK MI dan MTs, Rini menekankan pentingnya peran kepala madrasah dan pengawas sebagai motor penggerak perubahan di satuan pendidikan masing-masing madrasah. Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari penyusunan program literasi sekolah (GLS), strategi asesmen literasi, hingga pemanfaatan teknologi untuk mendukung pembelajaran literasi digital. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, terutama saat berdiskusi mengenai tantangan dan solusi penerapan literasi di daerah masing-masing, tambahnya.
Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Agam Rifhamdani, dalam kegiatan tersebut menekankan pentingnya peran sentral pimpinan dan pengawas madrasah. Kepala Madrasah dan Pengawas adalah motor penggerak perubahan. Dengan penguasaan konsep literasi yang kuat, mereka diharapkan mampu menjadi mentor dan fasilitator bagi para guru di madrasah masing-masing, memastikan setiap siswa MI memiliki kompetensi literasi yang memadai, ujar beliau.
Materi yang disampaikan oleh para narasumber, termasuk akademisi dan praktisi pendidikan literasi, meliputi, Strategi Pembelajaran Berbasis Literasi: Teknik mengintegrasikan literasi (membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan berpikir kritis) dalam semua mata pelajaran. Pemanfaatan Sumber Belajar: Optimalisasi perpustakaan madrasah dan sumber digital. Penyusunan Program Literasi Madrasah: Merancang kegiatan harian, mingguan, dan tahunan yang berkesinambungan (misalnya, gerakan 15 menit membaca, Supervisi Akademik Berbasis Literasi: Pedoman bagi pengawas untuk melakukan pendampingan yang berfokus pada peningkatan kemampuan literasi guru).
Salah satu peserta pelatihan peningkatan kompetensi literasi memberikan apresiasinya terhadap kegiatan ini. “Pelatihan ini sangat relevan. Kami mendapatkan tools praktis untuk tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga meningkatkan daya nalar kritis siswa. Kami berkomitmen untuk segera menindaklanjuti dengan pembentukan Tim Literasi di madrasah,” ungkapnya.
Dengan berakhirnya pelatihan ini, Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta berharap terjadi peningkatan signifikan dalam ekosistem literasi di seluruh MI di Kota Surakarta. Penguatan kapasitas pemimpin madrasah ini merupakan langkah nyata dalam mewujudkan visi pendidikan madrasah yang unggul dan berdaya saing, khususnya dalam mempersiapkan generasi emas yang cakap literasi dan numerasi.















